Tech Journey dan Pandangan Soal AI
Halo semuanya,
Perkenalkan, saya Miftah Fadilah, seorang mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi, dan juga seorang yang punya minat di bidang teknologi, terutama programming.
Di blog kali ini saya mau berbagi sedikit cerita perjalanan saya bersama teknologi, kenapa awalnya bisa tertarik, sampai akhirnya memutuskan untuk berkarir di bidang ini, dan kita akan sedikit bahas soal AI lalu nasib programmer kedepannya.
Besar Bareng Teknologi
Saya adalah Gen Z yang lahir di awal 2000-an. Kalau kita tarik lagi ke zaman itu, perkembangan teknologi itu lagi cepet banget, di tahun itu Youtube baru upload video pertamanya, Facebook baru dirilis, grafik video game mulai mengalami lonjakan drastis. Pokoknya banyak banget perkembangan teknologi yang terjadi di tahun itu.
Jadi bisa dibilang, Gen Z itu adalah generasi yang lahir dan tumbuh besar bareng teknologi.
Dari SD udah suka main game, PS, warnet, game HP, semua dicobain. Masuk SMP, saya mulai kenal istilah “opreker”, orang yang suka modifikasi sistem HP-nya sendiri. Waktu itu saya cuma ikut-ikutan, meskipun jujur sebenarnya nggak terlalu ngerti juga sama apa yang saya lakukan. Tapi rasanya seru aja gitu, ada kepuasan tersendiri aja rasanya ngoprek hal yang belum dipahami.
Padahal secara ga sadar, disitu ternyata udah berhadapan sama yang namanya bahasa pemrograman, karena untuk membuat sebuah modifikasi sistem handphone itu butuh coding, dan dari sinilah cikal bakal ketertarikan saya sama dunia teknologi.
Lalu masuk SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, dan di sinilah saya mulai jatuh cinta sama pemrograman. Dari momen itu saya mulai serius mendalami dunia coding, setelah itu saya lanjut kuliah di jurusan Sistem Informasi, dan sampai sekarang saya masih setia sama coding.
Mengenal AI
Kalau ada yang masih inget, sekitar tahun 2022 dan masih zamannya pandemi di Indonesia, dunia teknologi tiba-tiba rame banget sama satu nama, ChatGPT. Nama perusahaan yang membuatnya adalah OpenAI, mereka ngerilis versi beta-nya ke publik, dan waktu itu banyak banget orang yang penasaran sama teknologi ini dan akhirnya mulai nyobain. Dari developer, pelajar, sampai orang yang bahkan nggak tau apa itu large language model.
Saya sendiri waktu itu penasaran dan nyobain juga. Dan kesan pertama saya cuma satu: “ini gila”. Bukan karena dia sempurna dan tau segalanya, tapi karena untuk pertama kalinya saya berasa ngobrol sama mesin yang beneran ngerti konteks.
Perkembangannya ga berenti disitu. Beberapa waktu kemudian GPT-4 rilis, lalu bermunculan model-model lain seperti Gemini dari Google, Claude dari Anthropic, sampai model open-source yang bisa dijalanin sendiri di laptop. Setiap beberapa bulan selalu ada yang baru, selalu ada yang lebih canggih dari sebelumnya.
Apa dampaknya ke kebiasaan orang? tentu jadi beda banget. Dulu kalau ada pertanyaan soal tugas atau kerjaan, kita buka Google, ketik keyword, buka link satu-satu, saring sendiri mana yang relevan. Sekarang tinggal ketik ke AI, dan jawabannya langsung ada, lengkap, tersusun, dan bisa disesuaikan. Bahkan sekarang orang bisa bikin website utuh hanya dengan ngomong ke AI, tanpa perlu tau satu baris kode pun.
Tapi tentu, kayak teknologi lainnya, AI juga punya dua sisi.
Di sisi positifnya, produktivitas kita meningkat drastis. Pekerjaan yang tadinya butuh waktu berjam-jam bisa selesai lebih cepat. Akses informasi jadi lebih gampang karena AI yang menyajikan jawabannya buat kita, nggak semua orang punya mentor atau guru yang bisa ditanya kapan saja, tapi sekarang semua orang punya AI.
Di sisi lain, ada kekhawatiran yang juga nggak bisa diabaikan. Ketergantungan sama AI bikin sebagian orang jadi malas berpikir sendiri. Kemampuan kritis dan problem-solving bisa tumpul kalau kita terbiasa langsung minta jawaban tanpa mau proses dulu. Belum lagi soal misinformasi, AI bisa salah, tapi cara dia menjawab yang terkesan meyakinkan seringkali bikin kita nggak curiga.
Jadi AI itu bukan musuh, tapi juga bukan solusi ajaib. Dia cuma alat dan seperti semua alat, hasilnya tergantung siapa yang memakainya.
AI Itu Canggih — Tapi Apa Programmer Bakal Punah?
Saya paham kenapa banyak orang yang khawatir dengan kemunculan AI ini, terutama para programmer. Bayangin dulu untuk bikin satu sistem itu kita butuh ngoding baris per baris, berjam-jam, dan bahkan berhari-hari. Sekarang dengan bantuan AI, yang tadinya mungkin butuh waktu satu bulan buat selesai, bisa jadi satu minggu. Itu gila, kan?
Bahkan kalau dipikir dari sisi bisnis, akan lebih efisien hire 1 senior yang memanfaatkan AI agent daripada hire 10 junior.
Tapi apakah itu artinya programmer bakal punah?
Menurut saya, nggak juga.
Saya akui kalau AI sekarang itu udah canggih banget dan bisa bikin sistem super kompleks. Tapi keputusan-keputusan krusial soal arsitektur, infrastruktur, database, dan arah keseluruhan sistem itu tetap butuh manusia yang mengerti. Sekarang kerjaan programmer itu memang sudah bergeser dari yang awalnya ngoding, jadi lebih ke AI Native Engineer, Agentic Engineering, atau apapun itu sebutannya. Intinya programmer itu diharuskan untuk mengurus hal-hal yang lebih high level, sedangkan AI itu mengerjakan hal-hal yang lebih low level seperti eksekusi kode.
Programmer tetap jadi ujung tombak. Yang berubah hanya caranya.
Kekuatan Tanpa Ketepatan, Buat Apa?
Saya jadi ingat sebuah kalimat dari karakter Tok Kasa di film BoBoiBoy:
“Untuk apa kekuatan tanpa ketepatan?”
Kalau kita hubungkan ke konteks ini, buat apa punya AI model paling canggih kalau cara pakainya asal-asalan? Teknologi secanggih apapun, kalau digunakan dengan kurang tepat, hasilnya tetap akan ngaco.
Penutup
Begitulah pandangan saya soal nasib programmer ke depan, masih dibutuhkan, tapi dengan mindset yang berbeda. Programmer yang akan bertahan adalah dia yang bisa beradaptasi sama perkembangan AI, bukan yang denial.
Dan satu kalimat terakhir yang bisa saya titipkan:
“Teknologi terus upgrade, otak manusianya juga harus upgrade. Masa teknologinya canggih, tapi yang pakainya kurang pinter?”
Terima kasih sudah mampir dan baca sampai sini! 🙌